UNIVERSITAS YAPIS PAPUA 11/26 – Perjalanan akademik di Fakultas Teknik, Sains, dan Teknologi (FTST) dikenal bukan untuk mereka yang bermental lemah. Namun, pekan ini menjadi saksi bisu bagi beberapa mahasiswa yang akhirnya berhasil menanggalkan status “Pejuang Skripsi” menjadi “Calon Wisudawan” dalam prosesi Yudisium yang berjalan sukses.
Perjalanan ini tidak dimulai di ruang sidang, melainkan di laboratorium-laboratorium yang dingin, di depan layar monitor dengan ribuan baris kode yang error, serta di lapangan saat pengambilan data primer yang seringkali tidak sesuai teori, Bagi mahasiswa teknik dan sains, ujian skripsi bukan sekadar tanya jawab lisan. Ia adalah pembuktian atas validasi data, ketahanan prototipe, dan akurasi perhitungan.



Pasca-ujian sidang, tantangan belum usai. Mahasiswa harus berhadapan dengan fase “Revisi Final”—sebuah masa di mana ketelitian diuji untuk terakhir kalinya sebelum naskah dijilid rapi. Di Fakultas Teknik, satu angka di belakang koma atau satu kesalahan dalam diagram alir bisa berarti kembali ke meja bimbingan. Namun, segala lelah itu terbayar saat nama mereka tercantum dalam daftar peserta Yudisium.
Dalam prosesi Yudisium yang digelar di Kelas Depan Fakultas, suasana formal terasa kental namun hangat. Dekan Fakultas Teknik, Sains, dan Teknologi dalam sambutannya menekankan bahwa gelar yang diraih adalah tanggung jawab besar.
“Ini adalah Yudisium perdana untuk Fakultas Teknik, Sains Dan Teknologi, setelah sebelumnya bernama Fakultas Teknik, Kini sudah menjadi Fakultas Teknik, Sains Dan Teknologi. dengan ini menjadi tiga program studi yaitu Teknik Sipil, Arsitektur dan Budidaya Perairan. Selamat kepada kalian yang telah menyandang status “SARJANA” baik itu gelar (S.T) dan juga (S.Pi). Suksess buat kalian kedepanya, Jadilah pribadi yang berguna buat masyarakat dan siap menghadapi tekanan dan tantangan yang ada di luar sana.”
Saat nama-nama dipanggil satu per satu untuk di sebutkan IPK terakhir dan Predikat kelulusan, senyum lega terpancar. Tidak ada lagi beban menghitung rumus yang rumit atau mengejar dosen pembimbing di sekitaran kampus.
Acara pun ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama.
















